Showing posts with label Tualang. Show all posts
Showing posts with label Tualang. Show all posts

Monday, 10 March 2008

Puruih, dari Texas Menjadi Kawasan Wisata

Medio 1990-an silam, Puruih adalah kawasan yang identik dengan segala penyakit masyarakat (pekat) dan sempat diberi julukan Texas-nya Kota Padang. Seiring bergulirnya pembangunan kota, kawasan yang terletak di tepian Pantai Padang yang terkenal dengan Ombak Puruihnya itu, beranjak kian cantik. Sekarang, jangan ditanya, Puruih telah menjelma menjadi kawasan pariwisata nomor wahid.



Namun, ketika Wakil Ketua DPRD Kota Padang Z Panji Alam SH menggelar silaturrahim dengan seluruh elemen masyarakat di Kelurahan Puruih Padang Barat itu, Sabtu (8/5) di kediamannya, masih banyak yang harus dibenahi di kawasan tersebut. "Kita merasa bangga dengan adanya Danau Cimpago yang kian diminati dan Pantai Padang yang semakin ramai. Namun, di Purus 3, masih ada jalan yang gelap gulita," kata Wen yang berkesempatan menyampaikan aspirasinya.

Benar saja, ketika kran aspirasi itu dibuka, semakin banyaklah warga yang ingin mendapatkan 'pelayanan' dari Ketua DPD Partai Golkar Kota Padang itu sebagai wakil rakyat. Tidak Panji Alam namanya, jika tidak punya kiat khusus untuk menyelesaikan segala pelik -- apalagi untuk masyarakat di lingkungan tempat tinggalnya. Ratusan warga tumpah ruah di halaman yang dipasangi tenda itu.

Menan -- warga lainnya meminta, jika memang ada kelanjutan pengerjaan Danau Cimpago atau pengerukan, maka diharapkan segera direalisasikan. Katanya, saat ini beberapa masyarakat telah mengalihkan perhatian mereka untuk mendapatkan pekerjaan di lingkungan danau buatan dan tepian ombak itu. "Yang paling harus dibehani saat ini adalah, bagaimana rumput-rumput itu tidak lagi tumbuh di sela-sela batu. Sulit bagi kami, untuk membersihkannya," tukas Menan.

Ajang silaturrahmi yang sekaligus sebagai jemput bola aspirasi Panji Alam ke Daerah Pemilihan Padang I (Padang Barat dan Padang Utara) itu, cukup mendapatkan respon dari masyarakat. Camat Padang Barat Dra Imelwati MSi, Kapolsek Padang Barat AKP Heru Ekuwanto SIK, Lurah Puruih Rifandi dan sejumlah tokoh lainnya, terlihat hadir dan turut andil menjawab keluhan masyarakat.

"Kelurahan Puruih saat ini kian berubah. Tidak ada lagi kata-kata Texas untuk penduduk dan kawasannya. Daerah-daerah yang masih belum mendapatkan penerangan jalan umum (PJU)m, akan segera kita tindak lanjuti ke Kimpraswil Kota Padang," ungkap Panji yang mengakui, kalau tidak layak lagi, daerah Puruih masih ada yang gelap gulita.

Khusus untuk daerah pinggiran danau yang sangat sulit dibasmi rumputnya, kata Panji,memang kesalahan design awal danau. Seharusnya, di tepian danau tersebut, tidak dipasang batu-batu yang tidak rapat sehingga memudahkan tubuhnya rumput."Dalam pengerjaan pengerukan Danau Cimpago dalam waktu dekat oleh PSDA, kita meminta sekaligus untuk membenahi tepian danau dan pintu air yang telah rusak serta menempatkan seorang petugas penjaga pintu," ungkap Anggota DPRD yang disebut-sebut bakal maju dalam Pilkada mendatang.(rvi)

Read More......

Monday, 4 February 2008

"Barhentilah, Da. Ada Tempat Bagus..."

Malam belumlah begitu larut, ketika saya dan seorang rekan mencoba menelusuri Pantai Padang, Malam Minggu 2 Februari kemarin. Meski diteror oleh sedikit hujan dan badai pada siang hari, saat matahari mulai terkurung, cuaca tiba-tiba cerah dihiasi bintang. Mengitari pantai, ternyata sudah seperti layaknya pasar pada siang dan pagi hari. Ratusan pedagang kaki lima (PKL) sudah rapi menggelar dagangannya. Berniat melihat langsung melihat "kursi maksiat" sepeda motor dihentikan pada lokasi pedagang yang memiliki belasan kursi, beberapa motor juga sudah diparkir.



Sebelum menghentikan laju kendaraan, beberapa wanita muda sudah "merayu" seraya menunjuk kursi yang disediakan di belakang gerobak bersama tempat pembakaran yang terus berasap. Mereka berjejer rapi. "Barantilah da, ado tampak rancak. Bisa makan jaguang baka jo pisang baka," kata orang-orang yang khusus berdiri di tepi jalan. Karena niat hati untuk melihat bagaimana dan apa di balik kursi-kursi itu, dipilihlah tempat yang paling besar dan ramai.

"Kasiko da, siko diparkirkan," kata seorang pemuda yang langsung mengambil alih sepeda motor untuk diparkirkan. Karena kondisi pantai yang tidak rata, keahlian pemuda itu memarkirkan memang bermanfaat. "Duduak lah dulu, piliah se kursi-kursi itu," katanya amat ramah seraya beralih ke pelanggan lain yang juga akan memarkir kendaraan.

Melihat kursi-kursi yang di jejer sengaja tidak rapi itu, ternyata membuat jantung berdegup kencang. Mulailah kursi dengan sandaran paling rendah ditempati dan si pemuda yang tadi memarkir kembali datang. "Apo pasan da? Ado jaguang baka, pisang baka. Minumnyo juo banyak, teh botol atau miuman lainnya," tanyanya dan kami memesan dua jagung bakar dan dua teh botol.

Teh botol sudah datang dengan sangat cepat, namun jagungnya belum. Beberapa pasangan lainnya berdatangan dan memilih tempat-tempat yang rasanya tidak terlalu kentara oleh orang di belakan dan sampingnya. Tidak begitu lama dan hari baru Pukul 20.00 WIB, 15 kursi yang dihitung itu tinggal beberapa saja.

Tidak ada yang merasa saling kenal diantara belasan pasangan yang datang secara berangsur itu. Celingak-celinguk, saya malah mulai ragu untuk berlama-lama, karena suasana yang tidak begitu nyaman. Setelah memperhatikan, di kanan kiri dan melihat kepala yang terus beradu di kursi paling depan, ragu itu mulai mencair.

Kembali pada niat, ternyata apa yang dikira banyak orang yang terus berlalu-lalang di jalan raya ketika melihat kursi-kursi itu tidak salah. Dengan sandaran kursi yang sebagiannya hampir menyamai atau melebihi kepala, apa saja bisa dilakukan. Apalagi, tidak ada yang saling pandang, kecuali memandangi pasangannya masing-masing.

Serong ke kanan dari kursi saya persis ketika jagung bakar terhidang, sepasang kekasih sudah merasa di balik awan. Pasangan itu amat bebas. Apalagi didukung oleh terpal yang difungsikan sebagai atap sangat dekat kepada kepala mereka. Jadilah, mereka mendapat tempat amat strategis -- seperti dalam sebuah kotak.

Menghabiskan dengan cepat jagung yang telah dipesan, ternyata ada pemandangan lain di bagian kiri. Seorang gadis berjilbab tanpa malu bergandengan tangan dan memilih tempat duduk yang hanya tinggal satu. Mereka duduk dan kami langsung cabut. "Menghadap" ke kasir dan membayar.
"Kok sabanta se da," tanya seorang perempuah setengah baya yang menyapa dengan hangat. Sedangkan pemuda yang sepantasnya menjadi anaknya, langsung menuju ke sepeda motor. Motor dikeluarkan dari parkiran -- tidak ada uang parkir yang dipungut. Sementara dinginnya malam makin mengusik di benak.(***)

Read More......