Showing posts with label Sajak. Show all posts
Showing posts with label Sajak. Show all posts

Monday, 7 January 2008

Tembakan Untuk Datuk-Datuk

seorang anak menulis sesuatu di keningnya, ibunya tak pernah memberinya apa-apa. hanya seonggok pikiran kotor yang harus diteruskannya kepada nasib yang lebih berujung. tidakkah dunia dan seisinya diciptakan untuk manusia? setidaknya itu yang dikaji di surau kecil berlantai bambu waktu dulu. waktu harga nyawa tidak lebih baik dari harga sepotong ayam. ketika tembakan membabi buta salah arah salah hati salah kaprah salah satunya menembus Datuk Bumi Datuk Langit Datuk Udara dan Datuk Hampa. tahulah semuanya kalau itu hanya satu mainan kecil yang bisa diatasi manipulasi.



satu peluru yang menembus dada Datuk Bumi hanya dibalasnya dengan senyuman seadanya, tanpa harus dia meradang menghadang terbang. Datuk Langit hanya pura-pura jatuh, padahal beliau sangat sulit menyembunyikan hatinya yang terkekeh tak tahan, lalu pingsan. Datuk Udara lebih parah, pura-pura berpendar dan menyublim menjadi kerak tawa yang tiada dapat ditaklukkan tanah dan air. Datuk Hampa tak seberapa tajam menghaturkan sesembahan kegeliannya, hanya menutup mulutnya dengan penyumbat termos keadilan yang mulai menganga.

peluru untuk Datuk-Datuk itu tak ada yang tahu, tak ada yang mengulasnya dengan noktah sejarah, noktah bunga rampai apalagi simbol pembelaan. hanya dikatakan sebuah peristiwa usang yang mengalun ditengah-tengah peristiwa seorang pelacur yang akan meneruskan kewibawaanya kepada anaknya yang dengan bangga meneruskan tradisi. semua teknik bercinta dengan baribeh* dipakai sesuai dengan apa yang diajarkan langsung ibunya melalui bapaknya.

Nurani Sendiri, September 2006

* Baribeh = Sejenis beruang

Read More......

Monday, 31 December 2007

Mengemas Mimpi Tahun Baru

Ceracau Gerbang Kehidupan
Kadang kita terus berujar tentang nasib yang tengah kita alami. Menceracau kian kemari tanpa jelas memaknai semua kata. Menginterpretasikan, apa yang menjadi upaya untuk kemajuan sebuah jati diri sejati.



Ini adalah pembuka, sebuah temuan yang harus kita lakukan dengan segala kerendahan yang ada pada diri. Mencoba untuk melihat kembali, semua yang sebenarnya tidaklah milik kita lagi. Mencoba untuk terus - terus teringat akan kesalahan-kesalahan yang telah diperbuat.

Semuanya menjadi lebih baik, kalau kita mempunyai hati yang teduh, seperti sedang dimabuk asmara dengan segudang gundah di hati kita.(***)

Read More......